PANDEMI COVID-19 SEBAGAI MOMENTUM PENGEMBANGAN ZISWAF MELALUI FINANCIAL TECHNOLOGY

Muhammad Chairul Amri, S.E. Universitas Sebelas Maret (UNS)muhammadchairulamri@student.uns.ac.id/085758181888

Tujuan mulia diturunkannya syariat Islam salah satunya ialah adanya pemeliharaan harta yakni dengan membersihkan dan membuat harta menjadi lebih berkah, maka respons Islam terhadap syariat tersebut telah dituangkan dengan adanya kewajiban Zakat serta anjuran untuk Infaq, Sedekah dan Wakaf (Ziswaf). Selain memiliki manfaat secara pribadi untuk membersihkan dan membuat harta menjadi lebih berkah, Ziswaf juga memberikan dampak besar terhadap ekonomi ummat guna menciptakan kemaslahatan, keseimbangan ekonomi dan ketentraman hidup di seluruh elemen masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

Ziswaf sering dikenal sebagai ibadah yang memiliki dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi vertikal dan horizontal. Dimensi vertikal merupakan bentuk dari ketaatan manusia sebagai makhluk kepada sang pencipta Allah SWT, sedangkan dimensi horizontal merupakan bentuk dari hubungan baik antar sesama manusia. Ziswaf adalah gambaran sekaligus bentuk nyata dari Syariat Islam yang memiliki azas keadilan serta tolong-menolong antar ummat yang di implementasikan dalam ekonomi Islam. Oleh karena itu, di Indonesia sendiri sumber Ziswaf yang diberikan oleh masyarakat ini menjadi penting untuk menciptakan iklim ekonomi yang tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan.

Pada dasarnya masyarakat memiliki pilihan untuk menyerahkan Ziswafnya dalam bentuk uang tunai maupun berupa barang. Mekanisme penyerahannya pun masyarakat dapat memilih apakah ingin dibayarkan melalui online atau diserahkan secara langsung dengan mendatangi lembaga-lembaga resmi yang ditunjuk langsung oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Lantas dengan kondisi yang sedang terjadi seperti saat ini bagaimana apabila terdapat masyarakat yang ingin menyerahkan Ziswafnya secara langsung dengan datang ke lokasi? Apakah hal tersebut dimungkinkan? Tentunya dalam hal ini masyarakat dapat mengerti serta memahami kondisi yang sedang terjadi saat ini dan dapat mengambil opsi atau pilihan lain dengan melakukan pembayaran Ziswaf melalui online.

Seperti yang telah diketahui pasca adanya informasi pada tanggal 31 Desember 2019 dimana Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendapatkan laporan dari negara China bahwa telah terjadi beberapa kasus penyakit pernapasan di Kota Wuhan dari virus yang belum diketahui. WHO baru mengumumkan wabah ini menjadi darurat global (global emergency) pada tanggal 30 Januari 2020. Kasus pertama pasien positif Covid-19 di Indonesia diumumkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 (iaiglobal.or.id).

Atas adanya kejadian tersebut tidak lama kemudian terdapat aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang meminta agar masyarakat tidak keluar rumah terkecuali terdapat hal yang benar-benar mendesak termasuk dalam hal kegiatan ibadah. Begitu pula penyerahan Ziswaf, dikutip dari (liputan6.com) Menteri Agama Fachrul Razi dan Wakilnya Zainut Tauhid Sa’adi, membayar zakat secara online melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Bambang Sudibyo, selaku Ketua BAZNAS juga mengimbau kepada seluruh peserta untuk dapat berzakat secara online seperti Bapak Menteri Agama dan Bapak Wakil Menteri Agama.

Di era modern seperti saat ini banyak sekali perusahaan-perusahaan yang menggunakan technology digital dalam operasional perusahaannya. Termasuk perusahaan Financial Technology (FinTech) yang sudah menyediakan produk atau fasilitas pembayaran Ziswaf secara online. Financial technology (FinTech) merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik saja (bi.go.id).

Di Indonesia sendiri FinTech mulai meledak sejak tahun 2016 dimana mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan. Tercatat sampai dengan 30 April 2020, total jumlah penyelenggara FinTech terdaftar dan legal di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah sebanyak 161 perusahaan (ojk.go.id). Paling tidak ada 6 FinTech terkemuka di tanah air yang sudah menyediakan produk atau layanan pembayaran Ziswaf seperti DANA, LinkAja, Tokopedia, Bukalapak, Shopee dan Gojek.

Dikutip dari (katadata.co.id) layanan Financial technology (FinTech) Gojek yakni GoPay mencatat transaksi Zakat, Infaq dan Sedekah di platformnya melonjak dua kali lipat sejak bulan Maret atau ketika kasus positif Covid-19 di Indonesia pertama kali diumumkan. Artinya, hal ini membuktikan bahwa sisi lain dari adanya pandemi Covid-19 adalah sebagai Momentum Pengembangan Ziswaf melalui Financial Technology (FinTech). Sebelumnya mungkin banyak masyarakat yang belum mengetahui adanya pembayaran Ziswaf melalui FinTech, melainkan yang diketahui hanyalah melakukan pembayaran Ziswaf secara konvensional dengan datang langsung ke tempat atau lembaga yang secara resmi ditunjuk oleh BAZNAS. Namun saat ini FinTech benar-benar telah memberikan peran serta pengaruh besar terhadap pengembangan Ziswaf di tanah air. Masyarakat juga menjadi lebih paham dan terbantu untuk melakukan pembayaran Ziswaf secara mudah dan paktis. Harapannya, kedepan FinTech dapat memberikan pengaruh positif terhadap masyarakat untuk pengembangan Ziswaf di Indonesia dengan mengoptimalkan segala bentuk sumber daya yang dimiliki.